TAFSIR EKOLOGI MANUSIA: PENERAPAN PARADIGMA MUBADALAH TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG INTERAKSI MANUSIA TERHADAP ALAM

Rahmat, NIM.: 23205032051 (2025) TAFSIR EKOLOGI MANUSIA: PENERAPAN PARADIGMA MUBADALAH TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG INTERAKSI MANUSIA TERHADAP ALAM. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img] Text (TAFSIR EKOLOGI MANUSIA: PENERAPAN PARADIGMA MUBADALAH TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG INTERAKSI MANUSIA TERHADAP ALAM)
23205032051_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (5MB)
[img] Text (TAFSIR EKOLOGI MANUSIA: PENERAPAN PARADIGMA MUBADALAH TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG INTERAKSI MANUSIA TERHADAP ALAM)
23205032051_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (10MB) | Request a copy

Abstract

Krisis lingkungan adalah masalah seluruh dunia yang justru makin parah karena kemajuan industri. Dampaknya bisa dilihat dari udara yang tercemar dan menumpuknya limbah pabrik, yang merusak keseimbangan alam. Meskipun sudah ada pembahasan tentang etika lingkungan, cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat segalanya (antroposentrisme) masih mendominasi. Pandangan ini membuat manusia merasa berhak mengeksploitasi alam seenaknya tanpa memikirkan kelestariannya. Pembahasan tentang lingkungan dalam Al-Qur'an juga sering kali terpengaruh cara pandang ini. Penafsiran modern lebih banyak membahas kewajiban manusia terhadap alam, tetapi jarang menyinggung peran alam itu sendiri bagi kehidupan. Hal ini secara tidak langsung dapat membenarkan sikap egois manusia terhadap lingkungan. Penelitian kualitatif deskriptif-analitis ini bertujuan mengungkap konsepsi ekologi dan nilai-nilai ajaran lingkungan dalam Al-Qur'an dengan menganalisis ayat-ayat ekologis melalui perspektif mubadalah (resiprositas). Mubadalah dijadikan sebagai kerangka analisis untuk menafsirkan ulang relasi manusia-alam secara tematis, dengan menekankan prinsip timbal balik dan kesalingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kekhalifahan manusia bukanlah otoritas untuk mendominasi, melainkan sebuah amanah yang menuntut sikap adil, proporsional, dan pengutamaan rahmah (kasih sayang). Prinsip tauhid menegaskan bahwa kedaulatan mutlak hanya milik Tuhan, sementara manusia dan alam memiliki tanggung jawab masing-masing di hadapan-Nya. Konsep taskhīr (penundukan alam) Melalui lensa mubadalah, taskhir tidak dimaknai sebagai penaklukan sepihak, tetapi sebagai kemudahan timbal balik yang diberikan Tuhan. Ayat-ayat taskhīr dapat dibaca dengan subjek ganda: jika alam ditundukkan untuk melayani dan menopang kehidupan manusia, maka secara resiprokal, manusia juga ditundukkan untuk memelihara, melayani, dan melestarikan alam. Pendekatan mubadalah menawarkan hubungan yang seimbang dan saling menguntungkan antara manusia dan alam. Cara pandang ini diharapkan bisa menjadi solusi atas krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini. Kata Kunci: Manusia, Alam, Relasi, Ekologi dan Mubadalah

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Supervisor: Prof. Dr. Ahmad Baidowi, S.Ag., M.Si.
Uncontrolled Keywords: Manusia, Alam, Relasi, Ekologi dan Mubadalah
Subjects: Ilmu Alqur’an dan Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur'an dan Tafsir (S2)
Depositing User: S.Sos Sofwan Sofwan
Date Deposited: 14 Apr 2026 13:37
Last Modified: 14 Apr 2026 13:37
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76075

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum