KONSEP HAYA’ DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR MAQASIDI DAN RELEVANSINYA TERHADAP KRISIS MORAL KONTEMPORER (DEGRADASI DAN PERFECTIONISME MORAL)

Fatimatuzzahro, NIM.: 19105030112 (2025) KONSEP HAYA’ DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR MAQASIDI DAN RELEVANSINYA TERHADAP KRISIS MORAL KONTEMPORER (DEGRADASI DAN PERFECTIONISME MORAL). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img] Text (KONSEP HAYA’ DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR MAQASIDI DAN RELEVANSINYA TERHADAP KRISIS MORAL KONTEMPORER (DEGRADASI DAN PERFECTIONISME MORAL))
19105030112_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (4MB)
[img] Text (KONSEP HAYA’ DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR MAQASIDI DAN RELEVANSINYA TERHADAP KRISIS MORAL KONTEMPORER (DEGRADASI DAN PERFECTIONISME MORAL))
19105030112_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered users only

Download (8MB) | Request a copy

Abstract

Penulisan ini mengkaji konsep ḥaya’ dalam Al-Qur’an dengan pendekatan tafsir maqāṣidī dan relevansinya dalam keharmonisan masyarakat kontemporer. Latar belakang penulisan ini merespon meningkatnya fenomena degradasi dan perfectionisme moral dalam masyarakat modern, baik di dunia maya dan nyata, yang berakar pada kesalahpahaman dalam memaknai konsep malu, dimana Islam menempatkan rasa malu sebagai nilai moral positif dan terpuji yang seharusnya melekat pada diri seorang muslim, sedangkan pandangan Barat modern cenderung mempersepsikan secara negatif karena dianggap membatasi kebebasan dan ekspresi, serta menghambat perkembangan diri, padahal salah satu tujuan fundamental syariat Islam adalah memperbaiki dan menyempurnakan akhlak. Penulisan ini bertujuan mengidentifikasi penguraian narasi rasa malu di dalam Al-Qur’an, menggali pemahaman tafsir maqāṣidī tentang konsep malu secara mendalam, dan mengeksplorasi penerapannya dalam kehidupan modern. Kajian ini ditelaah melalui metode kualitatif dengan pengumpulan data berbasis studi pustaka dan dipaparkan secara deskriptif. Hasil penulisan ini dapat disimpulkan bahwa konsep ḥaya’ dalam Al-Qur’an berkaitan erat dengan rasa malu yang didasari keimanan, kesadaran moral, etika atau akhlak, dan penjagaan kehormatan diri. Ḥaya’ tidak sekadar rasa malu emosional, melainkan berperan sebagai etika dan moralitas sosial dengan dimensi protektif dan produktif yang mendukung maqāṣid asy-syarī’ah, yakni: penjagaan atas agama, akal, jiwa, keturunan, harta, negara dan alam, dan maqāṣid Al-Qur’an, yakni ṣalāḥ al-fardī, ṣalāḥ al-mujtama’, ṣalāḥ al-‘alam, serta berperan sebagai iṣlah ‘aqidah, nuẓum al-mujtama’ dan ta’kid al-akhlak. Rasa malu juga memiliki tujuan yang selaras dengan nilai pokok Al-Qur’an yang meliputi al-‘adalah, al-insāniyah, al-musāwāah, al-wasāṭiyah, at-taḥarrur wa al-mas’uliyah. Dalam masyarakat kontemporer, nilai malu masih tetap relevan diterapkan sebagai prinsip kontrol diri dan penjaga etika sosial, sekaligus memperkuat nilai tanggungjawab, integritas, dan kesadaran moral dalam menghadapi tantangan globalisasi media, budaya konsumerisme, dan krisis moralitas. Ḥaya’ berfungsi menyeimbangkan kesadaran moral manusia antara hilangnya rasa malu dan rasa malu yang berlebihan. Dengan demikian, ḥaya’ dapat menjadi dasar pembentukan moral yang proporsional dan solutif terhadap krisis moral etika masyakarat modern guna nilai malu tetap berfungsi sesuai tujuan syariat tanpa menghambat perkembangan diri.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Supervisor: Aida Hidayah, S. Th. I, M Hum
Uncontrolled Keywords: ḥaya’; tafsīr maqaṣidī; krisis moral kontemporer
Subjects: 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User: Muchti Nurhidaya [muchti.nurhidaya@uin-suka.ac.id]
Date Deposited: 10 Jun 2026 13:41
Last Modified: 10 Jun 2026 13:41
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76717

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum