MELACAK HISTORISITAS TAFSIR ANWAR AL-TANZIL WA ASRAR AL-TA'WIL DALAM HEGEMONI PENULISAN HASYIYAH DINASTI UTSMANI

Siti Baazegha Busyaina, NIM.: 22105030021 (2026) MELACAK HISTORISITAS TAFSIR ANWAR AL-TANZIL WA ASRAR AL-TA'WIL DALAM HEGEMONI PENULISAN HASYIYAH DINASTI UTSMANI. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (MELACAK HISTORISITAS TAFSIR ANWAR AL-TANZIL WA ASRAR AL-TA'WIL DALAM HEGEMONI PENULISAN HASYIYAH DINASTI UTSMANI)
22105030021_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (11MB) | Preview
[img] Text (MELACAK HISTORISITAS TAFSIR ANWAR AL-TANZIL WA ASRAR AL-TA'WIL DALAM HEGEMONI PENULISAN HASYIYAH DINASTI UTSMANI)
22105030021_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (20MB) | Request a copy

Abstract

Setiap karya tafsir memiliki konteks historis tertentu dan ritme pasar tertentu. Tafsir Anwār al-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl adalah karya tafsir yang dinilai populer pada periode abad ke-16 M hingga ke-19 M dalam ruang Dinasti Uṡmani dengan ritme pasar pembaca yang khas. Indikasi popularitas karya tafsir ini adalah banyaknya salinan naskah dan ḥāsyiyah yang ditulis atasnya berdasarkan data naskah yang telah dikatalogkan oleh al-Majmaʿ al-Malikī li-Buḥūṡ al-Ḥaḍārah al-Islāmiyyah dalam al-Fihris al-Syāmil. Penelitian ini mengupas konteks historis hegemoni penulisan ḥāsyiyah atas Tafsir Anwār al-Tanzīl dalam Dinasti Uṡmani untuk menjawab faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Para ulama Dinasti Uṡmani dalam rentang waktu antara abad ke-16 dan ke-19 telah diintegrasikan ke dalam struktur negara sebagai kelas ilmiyye dimana ulama akan sangat bergantung kepada negara berdasarkan jabatan publik yang ia duduki. Kelas ini terdiri dari ahli hukum, hakim, guru, tokoh suci, dan ulama yang merupakan lulusan madrasah. Pasca reformasi pendidikan yang dilakukan oleh Sultan Sulaiman (berkuasa 1520-1566), pendidikan madrasah dipusatkan di bawah kendali negara. Sultan mengeluarkan dekrit berupa ferman untuk mengatur madrasah baik yang berkenaan dengan kualifikasi yang diberikan kepada guru madrasah maupun kanonisasi buku-buku tertentu yang menjadi kurikulum disana. Sedangkan dinamika intelektual yang terjadi pada rentang waktu tersebut adalah pergeseran paradigma intelektual dari keseimbangan antara al-ʽulūm al-ʽaqliyyah (ilmu-ilmu rasional) dan al-ʽulūm an-naqliyyah (ilmu-ilmu yang ditransmisikan) menjadi kecenderungan pada satu sisi yaitu al-ʽulūm an-naqliyyah yang berkaitan dengan ilmu keagamaan murni. Ortodoksi menemukan relevansinya disini, yakni dengan melihat teks-teks apa saja yang ingin disediakan oleh negara agar menjadi satu kurikulum standar di dalam madrasah. Catatan muḥaqqiq dan narasi historiografi dapat membantu menjelaskan bagaimana Anwār al-Tanzīl diresepsi dan pernah mendominasi ruang intelektual tertentu. Penjelasan tersebut juga dipertegas dengan resepsi para sarjana Uṡmani yaitu Ṭasykubrāzādeh, Ḥājjī Khalīfah, dan Sajaqlizādeh terhadap Anwār al-Tanzīl dan keseluruhannya memiliki resepsi yang berbeda yang merepresentasikan zaman yang terus berkembang. Anwār al-Tanzīl memainkan peran penting genre tafsir yang terbentuk dalam ruang ḥāsyiyah. Ia hidup dalam madrasah dan patronase politik. Hal tersebut membentuknya menjadi tafsir yang otoritatif selama berabad-abad. Otoritas tersebut juga dapat direpresentasikan melalui produksi literatur cetak atas Tafsir Anwār al-Tanzīl pada abad ke-19. Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi popularitas Anwār al-Tanzīl menjadi tafsir otoritatif melalui penulisan ḥāsyiyah yang masif dilakukan untuknya. Pertama, karena ia merupakan tafsir yang merepresentasikan ideologi Asy’ari yang berkembang dalam diskusi kalām Dinasti Uṡmani dan reputasi al-Baiḍāwī sebagai ahli kalām (teologi) yang teks kalāmnya digunakan secara aktif oleh para teolog Uṡmani. Kedua, Anwār al-Tanzīl merupakan ringkasan al- Kasysyāf yang terlebih dahulu telah menikmati otoritasnya dan dibutuhkan versi sederhana dari al-Kasysyāf dan yang Sunni. Ketiga, madrasah dan forum politik menjadi pemicu utama maraknya penulisan ḥāsyiyah untuknya dan hal ini berdampak pada kulifikasi seorang ulama. Beberapa muḥasysyī dari kalangan ulama menggunakan tafsir ini juga untuk mendiskusikan isu teologis, dalam hal ini menggunakan analisis konten dalam QS. Aḍ-Ḍuḥā:7. Persinggungan faktor politik, sosial, dan intelektual telah membentuk popularitas Tafsir Anwār al-Tanzīl.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Supervisor: Drs. M. Mansur, M.Ag.
Uncontrolled Keywords: Tafsir Anwar al-Tanzil, Tradisi Tafsir, Dinasti Usmani
Subjects: 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.98 Sejarah - Tokoh Islam
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User: Muh Khabib
Date Deposited: 24 Jun 2026 14:24
Last Modified: 24 Jun 2026 14:24
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77033

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum