RESEPSI PEMBELI MADU SUNNAH TERHADAP HADIS-HADIS MENGENAI MADU DALAM IKLAN MADU “DZIKRIYA” DI YOGYAKARTA

Aufa Yuvela Rafif, NIM.: 22205031045 (2026) RESEPSI PEMBELI MADU SUNNAH TERHADAP HADIS-HADIS MENGENAI MADU DALAM IKLAN MADU “DZIKRIYA” DI YOGYAKARTA. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (RESEPSI PEMBELI MADU SUNNAH TERHADAP HADIS-HADIS MENGENAI MADU DALAM IKLAN MADU “DZIKRIYA” DI YOGYAKARTA)
22205031045_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (10MB) | Preview
[img] Text (RESEPSI PEMBELI MADU SUNNAH TERHADAP HADIS-HADIS MENGENAI MADU DALAM IKLAN MADU “DZIKRIYA” DI YOGYAKARTA)
22205031045_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (28MB) | Request a copy

Abstract

Saat ini, penggunaan teks Al-Qur'an dan Hadis telah meluas dari sekadar ranah keilmuan dan dakwah menuju ranah komersial. Komodifikasi ini sering kali menggeser tujuan utama Hadis, mengubahnya menjadi alat persuasi untuk meningkatkan penjualan produk. Hal ini berpotensi mendegradasi sakralitas Hadis dan memicu kebingungan di tengah masyarakat dalam memahami batasan sakral dan profan pada sebuah iklan. Penelitian ini mengambil studi kasus pada produk Madu Dzikriya dari CV An-Nur yang menerapkan strategi pemasaran tersebut. Bertujuan untuk menganalisis strategi encoding produsen dan resepsi (decoding) masyarakat terhadap penggunaan Hadis dalam iklan, penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan Living Hadis. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan konsumen aktif, yang kemudian dianalisis menggunakan Teori Encoding-Decoding Stuart Hall.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap encoding, produsen mengonstruksi narasi kehebatan produk dengan menggabungkan teks anjuran konsumsi madu, doa, dan nilai infak. Namun, pada tahap decoding, penerimaan masyarakat terbagi menjadi tiga kelompok posisi. Pertama, kelompok dominant hegemonic menerima teks iklan sebagai anjuran agama yang harus dijalankan. Kedua, kelompok negotiated memahaminya sebatas informasi pengobatan ala Rasul dengan memberikan batasan tertentu. Ketiga, kelompok opposition menolak pesan tersebut dengan memahami Hadis secara normatif tanpa mengaitkannya dengan produk. Resistensi pada kelompok oposisi ini berasal dari kalangan tekstualis yang menolak penyempitan makna Hadis, serta kalangan moderat yang menganggap komersialisasi agama tidak etis. Pada akhirnya, ketiga kelompok tersebut tetap mengedepankan rasionalitas empiris (kualitas, harga, dan khasiat) dalam keputusan pembelian. Kesimpulannya, strategi pemasaran berbasis dogma agama tidak selalu memberikan dampak yang diharapkan, melainkan dapat memunculkan resistensi yang berlawanan dengan pesan utama iklan.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Supervisor: Prof. Dr. Saifuddin Zuhri Qudsy, S.Th.I., MA.
Uncontrolled Keywords: Living Hadis, Komodifikasi Agama, Resepsi
Subjects: 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.125 Hadis
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur'an dan Tafsir - Ilmu Hadis (S2)
Depositing User: Muh Khabib
Date Deposited: 25 Jun 2026 11:07
Last Modified: 25 Jun 2026 11:07
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77081

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum