KONTEKSTUALISASI PENAFSIRAN AYAT-AYAT TAGHYIR KHALQILLAH DAN RELAVANSINYA DENGAN ISU GENE EDITING CRISPR-Cas9

Amirah Saniyah Serepa, NIM.: 24205031065 (2026) KONTEKSTUALISASI PENAFSIRAN AYAT-AYAT TAGHYIR KHALQILLAH DAN RELAVANSINYA DENGAN ISU GENE EDITING CRISPR-Cas9. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (KONTEKSTUALISASI PENAFSIRAN AYAT-AYAT TAGHYIR KHALQILLAH DAN RELAVANSINYA DENGAN ISU GENE EDITING CRISPR-Cas9)
24205031065_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (12MB) | Preview
[img] Text (KONTEKSTUALISASI PENAFSIRAN AYAT-AYAT TAGHYIR KHALQILLAH DAN RELAVANSINYA DENGAN ISU GENE EDITING CRISPR-Cas9)
24205031065_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (19MB) | Request a copy

Abstract

Perkembangan teknologi gene editing CRISPR-Cas9 pada abad ke-21 telah memicu revolusi besar dalam kedokteran presisi, namun di sisi lain menimbulkan dilema etik, filosofis, dan teologis yang serius terkait batas intervensi manusia terhadap ciptaan Allah. Persoalan menjadi krusial ketika teknologi "gunting molekuler" ini tidak hanya digunakan sebagai sarana pengobatan medis (healing), melainkan membuka peluang bagi praktik rekayasa genetika non-medis (enhancement) seperti kosmetik rupa (designer babies) serta modifikasi sel germinal yang dampaknya dapat diwariskan antar lintas generasi. Berangkat dari realitas tersebut, terjadi kekosongan parameter moral akibat adanya kesenjangan yang lebar (gap) ketika teks keagamaan dipahami secara kaku untuk menjawab realitas sains modern. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ulang konsep larangan mengubah ciptaan Allah (taghyīr khalqillāh), agar dapat menemukan dan memahami batasan etik yang jelas dalam Al-Qur’an terhadap batas operasional pemanfaatan isu gene editing CRISPR-Cas9. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penelitian kualitatif dalam bentuk studi kepustakaan (library research) ini menggunakan pendekatan hermeneutika kontekstual yang ditawarkan oleh Abdullah Saeed sebagai pisau analisis utamanya. Teks-teks suci yang menjadi objek formal kajian ini difokuskan secara integratif pada empat ayat pilihan, yaitu QS. an-Nisā’ [4]: 119, QS. Āli ‘Imrān [3]: 6, QS. ar- Rūm [30]: 30, dan QS. al-Infiṭār [82]: 6–8. Keempat ayat penciptaan dan fitrah tersebut dibedah secara komparatif melalui intermediasi tafsir At-Tabari, Al- Qurtubi, dan Hamka melalui empat tahapan metodis sistematis Abdullah Saeed, yang meliputi: analisis linguistik, analisis konteks sosio-historis makro-mikro abad ke-7 dan intermediasi teks dari masa klasik hingga modern, identifikasi hierarki nilai-nilai meliputi; memisahkan antara nilai instruksional lokal-temporal dengan nilai fundamental universal-abadi, hingga proses reaplikasi atau kontekstualisasi nilai ke dalam realitas sains kontemporer saat ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa redefinisi konsep taghyīr khalqillāh menolak pemaknaan literal-generalistik yang menganggap seluruh intervensi biologis genom sebagai tindakan tercela. Al-Qur'an sejatinya tidak melarang perubahan fisik yang bersifat restoratif, melainkan melarang perubahan destruktif yang didorong oleh hawa nafsu, kesombongan ilmiah, komodifikasi genom, dan penyeragaman tubuh manusia. Dalam horizon ḥifẓ an-nafs (perlindungan jiwa), Al- Qur'an sejatinya meletakkan enam batasan etik utama dalam merespons gene editing, yaitu pertama batasan orientasi terapeutik yang jelas, di mana intervensi harus ditujukan murni untuk pemulihan medis; kedua, batasan kebutuhan yang nyata dan proporsional, guna mencegah tindakan melampaui batas kewajaran fisik; ketiga, batasan prinsip keselamatan dan kehati-hatian, demi menghindari risiko biologis yang membahayakan jiwa; keempat, batasan keadilan distributif dan tanggung jawab sosial, agar pemanfaatan teknologi tidak eksklusif dan menciptakan ketimpangan sosial-biologis; kelima, Batasan tegas terhadap enhancement non-terapeutik; serta keenam editing germinal berisiko tinggi yang dapat memicu krisis etik antargenerasi. Berdasarkan enam parameter tersebut, gene editing pada tingkat sel somatik yang bertujuan terapeutik-restoratif untuk mengobati kelainan genetik berat secara syariat dapat dibenarkan sebagai tindakan "menyempurnakan" fungsi kehidupan. Sebaliknya, modifikasi kosmetik dan manipulasi embrio dini dikategorikan sebagai tindakan "mengubah" ciptaan yang tercela karena merusak harmoni fitrah manusia.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Supervisor: Dr. Ali Imron, S.Th.I., M.S.I.
Uncontrolled Keywords: Taghyir Khalqillah, CRISPR-Cas9, Abdullah Saeed, Bioetika Islam, Hifz An-Nafs
Subjects: 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur'an dan Tafsir - Studi Alqur'an (S2)
Depositing User: Muh Khabib
Date Deposited: 26 Jun 2026 10:39
Last Modified: 26 Jun 2026 10:39
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77107

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum