MENJADI MUSLIM DARI TIMUR: INSTITUSIONALISASI IDENTITAS DAN RELATIF DEPRIVATIF DALAM KOMUNITAS ETNORELIGIUS PEMUDA MUSLIM NTT DI YOGYAKARTA

Muhammad Amin Saputra, NIM.: 23200012069 (2026) MENJADI MUSLIM DARI TIMUR: INSTITUSIONALISASI IDENTITAS DAN RELATIF DEPRIVATIF DALAM KOMUNITAS ETNORELIGIUS PEMUDA MUSLIM NTT DI YOGYAKARTA. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (MENJADI MUSLIM DARI TIMUR: INSTITUSIONALISASI IDENTITAS DAN RELATIF DEPRIVATIF DALAM KOMUNITAS ETNORELIGIUS PEMUDA MUSLIM NTT DI YOGYAKARTA)
23200012069_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview
[img] Text (MENJADI MUSLIM DARI TIMUR: INSTITUSIONALISASI IDENTITAS DAN RELATIF DEPRIVATIF DALAM KOMUNITAS ETNORELIGIUS PEMUDA MUSLIM NTT DI YOGYAKARTA)
23200012069_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (3MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini menngunakan teori relatif deprivatif yang dikonseptualisasikan oleh Walter G Runciman mengenai pentingnya kelompok pembanding (comparison group), dan memperluasnya dengan menunjukkan bagaimana ia tidak selalu bekerja dalam relasi antarkelompok yang terpisah secara tegas, melainkan sering kali muncul dalam relasi sosial yang sangat dekat secara etnogenetik, kultural dan historis. Hasil penelitian menunjukkan adanya transformasi dari solidaritas kedaerahan yang berbasis geografis menuju konsolidasi etnoreligius yang lebih spesifik. Identitas Muslim Solor Watan Lema dan Galiyao Watan Lema yang semula berakar pada ikatan genealogis, memori kolektif, serta sejarah jaringan Islam pesisir di kawasan Solor dan Alor direartikulasi ulang dalam konteks urban Yogyakarta menjadi komunitas etnoreligius yang lebih spesifik, seperti melalui AMALY sebagai (Muslim Lamaholot di Jogja) dan IKPMBJ sebagai (Muslim Alor Baranusa di Jogja). Transformasi ini menandai perubahan dari logika asal-usul menuju penguatan identitas religius sebagai basis kohesi, disiplin moral, dan pengelolaan citra kolektif di ruang publik. Dalam proses tersebut, identitas etnoreligius bekerja dalam dialektika antara logika primordial dan instrumental yang saling bertumpang tindih. Logika primordial menyediakan fondasi emosional tentang kesatuan, loyalitas, dan kehormatan kolektif. Sementara itu, logika instrumental tampak dalam mobilisasi identitas oleh elite etnis (ethnic broker) untuk mengonsolidasikan massa, mengakses sumber daya, dan memperkuat posisi tawar di ruang publik kota di Yogyakarta. Konflik yang muncul tidak semata merupakan ekspresi sentimen asal-usul, tetapi sering kali merupakan hasil politisasi identitas yang memanfaatkan solidaritas genealogis sebagai energi mobilisasi. Akibatnya, pengalaman deprivasi relative tidak selalu bekerja dalam relasi antarkelompok yang terpisah secara tegas, melainkan sering kali muncul dalam relasi sosial yang sangat dekat secara etnogenetik, kultural, dan historis, serta ketika sebagian merasa menanggung konsekuensi reputasional dari mobilisasi kolektif yang tidak selalu mereka pilih. Kata Kunci: Relatif Deprivatif, Solor Watan Lema, Galiyao Watan Lema, Identitas Muslim NTT.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Supervisor: Dr. Moh Soehadha, S.Sos.M.Hum,
Uncontrolled Keywords: Relatif Deprivatif, Solor Watan Lema, Galiyao Watan Lema, Identitas Muslim NTT.
Subjects: Masyarakat Islam
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Interdisciplinary Islamic Studies > Kajian Komunikasi dan Masyarakat Islam
Depositing User: S.Sos Sofwan Sofwan
Date Deposited: 25 Jun 2026 14:31
Last Modified: 25 Jun 2026 14:31
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77233

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum