EKSISTENSI BELIS GADING GAJAH SEBAGAI BENTUK PENGHORMATAN MARTABAT PEREMPUAN DALAM PERKAWINAN ADAT SUKU LAMAHOLOT (STUDI KASUS DI DESA LAMABELAWA KECAMATAN WITIHAMA KABUPATEN FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR)

Irfansyah Hasanudin, NIM.: 22103050162 (2026) EKSISTENSI BELIS GADING GAJAH SEBAGAI BENTUK PENGHORMATAN MARTABAT PEREMPUAN DALAM PERKAWINAN ADAT SUKU LAMAHOLOT (STUDI KASUS DI DESA LAMABELAWA KECAMATAN WITIHAMA KABUPATEN FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (EKSISTENSI BELIS GADING GAJAH SEBAGAI BENTUK PENGHORMATAN MARTABAT PEREMPUAN DALAM PERKAWINAN ADAT SUKU LAMAHOLOT (STUDI KASUS DI DESA LAMABELAWA KECAMATAN WITIHAMA KABUPATEN FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR))
22103050162_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (4MB) | Preview
[img] Text (EKSISTENSI BELIS GADING GAJAH SEBAGAI BENTUK PENGHORMATAN MARTABAT PEREMPUAN DALAM PERKAWINAN ADAT SUKU LAMAHOLOT (STUDI KASUS DI DESA LAMABELAWA KECAMATAN WITIHAMA KABUPATEN FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR))
22103050162_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (3MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode field research (penelitian lapangan) dengan pendekatan sosiologis-antropologis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, struktur pemerintah, serta dokumentasi. Analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kerangka teori yang digunakan adalah Teori Resiprositas Marcel Mauss dan Teori Simbolik Clifford Geertz, yang digunakan secara komplementer untuk memahami makna belis gading gajah dari dimensi sosial, budaya, dan keagamaan melalui pendekatan sosiologis-antropologis, sekaligus mengkaji kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, belis gading gajah merupakan simbol sakral yang diwariskan turun-temurun sebagai tanda penghormatan tertinggi terhadap martabat perempuan, pengakuan atas pengorbanan orang tua, serta penanda sahnya ikatan kekerabatan antara dua keluarga besar. Kedua, masyarakat Muslim Lamaholot memahami tradisi belis sebagai sistem pertukaran sosial yang kompleks mencakup kewajiban memberi, menerima, dan membalas yang justru sejalan dan saling mendukung nilai-nilai Islam, bukan bertentangan. Gading gajah berfungsi sekaligus sebagai model of yang merepresentasikan martabat perempuan dan model for yang menjadi panduan bagi laki-laki dalam menghormati calon istrinya. Ketiga, dari perspektif hukum Islam, tradisi belis gading gajah digolongkan sebagai 'urf sahih kebiasaan adat yang dapat diterima karena tidak bertentangan dengan prinsip syariat dan mendukung tujuan mulia perkawinan. Namun demikian, apabila nilai belis yang diminta menimbulkan beban utang yang berat atau berujung pada penundaan bahkan perceraian, maka praktik tersebut bergeser dari yang dianjurkan menjadi tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan prinsip kemudahan (taysir) dan keadilan dalam Islam. Kata kunci: Perkawinan Adat Lamaholot, Belis Gading Gajah, Mahar Sakral, Martabat Perempuan

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Supervisor: Yasin Baidi, S.Ag., M.Ag,
Uncontrolled Keywords: Perkawinan Adat Lamaholot, Belis Gading Gajah, Mahar Sakral, Martabat Perempuan
Subjects: 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.577 Hukum Keluarga Islam, Bimbingan Pernikahan, Poligami, Perceraian, Iddah, Pengasuhan Anak)
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga Islam (S1)
Depositing User: S.Sos Sofwan Sofwan
Date Deposited: 02 Jul 2026 13:25
Last Modified: 02 Jul 2026 13:25
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77405

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum