AL-WUJUH WA AN-NAZA’IR MENYELAMI KERAGAMAN & KEUNIKAN MAKNA AYAT AL-QUR’AN

Tulus Musthofa,, - (2024) AL-WUJUH WA AN-NAZA’IR MENYELAMI KERAGAMAN & KEUNIKAN MAKNA AYAT AL-QUR’AN. Idea Press, Yogyakarta. ISBN 978-623-484-152-

[img]
Preview
Text (AL-WUJUH WA AN-NAZA’IR MENYELAMI KERAGAMAN & KEUNIKAN MAKNA AYAT AL-QUR’AN)
al-wujuh wa an-nazair.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview
[img]
Preview
Text (Surat Pernyataan)
surat-surat-pernyataan1784608748.pdf - Published Version

Download (21kB) | Preview

Abstract

Dalam ilmu al-Qur’ān, al-musytarak al-lafẓī dibahas dalam ‘ilm al-wujūh wa an-naẓā’ir. Ilmu ini termasuk ke dalam cabang ilmu tafsir. Para pakar mendefinisikan al-wujūh wa an-naẓā’ir sebagai suatu kata yang disebutkan di dalam berbagai tempat di dalam al Qur’ān, dengan ucapan dan harakat yang sama tapi kata tersebut memiliki makna yang berbeda di setiap tempatnya. Oleh karena itu, ucapan setiap kata yang disebutkan di tempat yang sepadan dengan ucapan kata yang sama di tempat yang lain—itulah yang disebut dengan an-naẓā’ir. Adapun tafsiran setiap kata dengan maknanya yang berbeda, itulah yang dinamakan al-wujūh. Jadi, an-naẓā’ir merupakan nama untuk ucapan, sedangkan al-wujūh merupakan sebutan bagi makna. Karya yang berhubungan dengan masalah ini dikenal dengan nama al-wujūh wa an-naẓā’ir walaupun tidak mesti menggunakan nama tersebut. Para ulama umumnya menyusun al-wujūh wa an-naẓā’ir menggunakan paradigma, metode dan pendekatan yang sama. Dari satu penulis ke penulis yang lain melakukannya, baik dari segi pengambilan kata-kata al-Qur’ān yang dijadikan kajian, urutan penyusunan, maupun wujūh dengan setiap kalimat menjadi berbagai makna dalam wujūh tersebut. Oleh karena itu, kitab-kitab al-wujūh wa an-naẓā’ir lebih mencerminkan sebagai kamus spesial tentang kata-kata al-Qur’ān yang bermakna ganda Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi adanya al-musytarak al-lafẓī dalam al-Qur’ān, yakni kalangan yang sepenuhnya menolak, menerima sepenuhnya, dan yang mengakui keberadaannya secara proporsional. Demikian juga antara pihak yang menganggap al-musytarak al-lafẓī sebagai bentuk kemukjizatan al-Qur’ān, ada pula yang beranggapan sebaliknya Perbedaan para ulama tentang ada dan tidaknya al-musytarak al-lafẓī terletak pada cara pandangnya. Yang melihat makna dari sisi hanya teori penggunaan berkesimpulan bahwa al-musytarak al-lafẓī banyak ditemukan. Adapun yang melihat makna dari sisi teori bahwa satu kata satu makna, maka bahasa berfungsi ibānah. Jika satu kata memiliki lebih dari satu makna, maka fungsi ibānah menjadi berkurang. Dari sini setiap kata musytarak perlu ditelusuri: apakah antara makna-makna yang ada itu berada pada tingkat, konteks dan waktu yang sama ataukah tidak. Pendapat lain menyebutkan bahwa perbedaan pendapat terkait ada dan tidak adanya al-musytarak al-lafẓī adalah bukti bahwa fungsi deskripsi bahasa itu ada keterbatasannya. “Kata-kata memiliki keterbatasan, sedangkan makna-makna tidak. Maka penggunaan majāz menjadi solusi untuk permasalahan tersebut.” Banyak teori dirumuskan para pakar semantik tentang al musytarak al-lafẓī. Salah satunya dirumuskan oleh Muḥammad Nuruddin al-Munajjid yang mendefinisikan al-musytarak al lafẓī sebagai setiap kata mufrad dengan urutan huruf-huruf dan harakatnya menunjukkan secara spesifik dua makna atau lebih, dalam lingkungan yang satu, pada masa yang satu, dan di antara makna-makna tersebut tidak ada ikatan arti ataupun balāghah. Teori ini telah digunakan al-Munajjid dalam menganalisis kata-kata al-wujūh wa an-naẓā’ir, sejauh mana memenuhi kriteria al-musytarak al-lafẓī yang ditikberatkan pada aspek wujūh. Penulis menganalisis aspek yang belum dianalisis oleh al-Munajjid, yaitu an-naẓā’ir yang merupakan salah satu dari dua sisi yang menentukan apakah suatu kata yang selama ini diindikasikan oleh ulama al-wujūh wa an-naẓā’ir sebagai al-musytarak al-lafẓī betul betul ada, di samping juga menguatkan analisis al-wujūh dengan fokus pada faktor balāghah. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa kata kata yang termuat di dalam buku al-wujūh wa an-naẓā’ir setelah dikritisi dan dilakukan pembahasan mendalam pada umumnya ternyata tidak terbukti sebagai musytarak al-lafẓī Setelah dilakukan penelitian kata-kata tersebut, pada umumnya tidak memenuhi kriteria sebagai kata musytarak, baik dari aspek al-wujūh maupun an-naẓā’ir. Akan tetapi, perbedaan makna yang ada lebih cenderung disebabkan oleh beberapa faktor-faktor di luar kata tersebut. Atas dasar ini, kitab-kitab tentang al-wujūh wa an-naẓā’ir dapat dikategorikan sebagai karya yang cenderung masuk dalam bidang kajian tafsir dan takwil yang khusus membahas pengertian pengertian umum suatu kata sesuai dengan konteksnya atau sebab faktor-faktor lain. Karya-karya tersebut tidak penulis masukkan dalam kategori bidang kajian bahasa yang membahas tentang perincian makna suatu kata sesuai dengan penggunaannya. Di antara faktor yang mempengaruhi makna ganda yang ada dalam al-wujūh wa an-naẓā’ir adalah penggunaan bentuk-bentuk al-istikhdām al-balāgī (retorika) yang meliputi: al-majāz al-mursal (majaz); al-isti‘ārah (kiasan); (al-kināyah (sindiran/metonimi); takhsīs al-ām (pengkhususan makna umum). Antara al-musytarak al-lafẓī dan al-wujūh wa an-naẓā’ir memang ada persamaanya dalam hal makna ganda tapi masing masing mempunyai karakter kebahasaan yang berbeda. Dari temuan-temuan di atas, penulis menilai bahwa fenomena bahasa dalam al-Qur’ān betapapun telah banyak dikaji dari satu generasi ke generasi yang lain, ternyata masih banyak menyimpan misteri yang menjadi lahan yang subur bagi para peneliti. Oleh karena itu, fenomena ini hendaknya mendorong adanya spesialiasi kebahasaan dalam al-Qur’ān dengan paradigma keilmuan yang lebih lengkap. Di sisi lain, hendaknya karya-karya yang begitu banyak dalam bidang kebahasaan al-Qur’ān dengan paradigma teori yang sama tidak menjadikan para peneliti menganggap sesuatu yang final yang tidak lagi bisa didiskusikan. Perkembangan linguistik, khususnya dalam bidang semantik yang begitu cepat, hendaklah dapat memperkaya studi bahasa Arab termasuk di dalamnya bahasa Arab yang terkandung dalam al Qur’ān. Kajian semantik modern bagi peneliti bidang bahasa Arab hendaknya diimbangi dengan kajian mendalam terhadap linguistik bahasa Arab mengingat kekayaan khazanah kebahasaan dalam bahasa Arab sedemikian rupa besarnya dalam menyumbangkan ilmu kebahasaan bahkan banyak mengilhami berbagai teori kebahasaan modern, baik langsung maupun tidak langsung. Sudah waktunya agar fenomena kebahasaan al-Qur’ān dijadikan suatu bidang mata kuliah tersendiri agar mahasiswa terlatih dalam sensitivitas kebahasaan mereka terhadap fenomena tersebut yang pada akhirnya akan membantu kemampuan memahami ayat-ayat al-Qur’ān lebih mendalam. Sudah saatnya juga di kalangan Perguruan Tinggi Agama Islam untuk mendirikan Pusat Kajian al-Qur’ān yang akan mengkaji berbagai aspek dalam Kitab Suci ini, termasuk di dalamnya aspek kebahasaan

Item Type: Book
Uncontrolled Keywords: al-wujuh wa an-nazair, Linguistik, Ayat Al Qur'an, Sastra Arab
Subjects: Kesusastraan Arab
Divisions: Buku
Depositing User: Dra. Khusnul Khotimah, SS, M.IP -
Date Deposited: 20 Jul 2026 09:28
Last Modified: 21 Jul 2026 11:40
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77583

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum