Wafina Rahmatika Salimah, NIM.: 22105030054 (2026) DINAMIKA FUNGSI MAN DAN MĀ DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS SEMANTIK TOSHIHIKO IZUTSU. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.
|
Text (DINAMIKA FUNGSI MAN DAN MĀ DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS SEMANTIK TOSHIHIKO IZUTSU)
22105030054_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (DINAMIKA FUNGSI MAN DAN MĀ DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS SEMANTIK TOSHIHIKO IZUTSU)
22105030054_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version Restricted to Registered users only Download (6MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya anomali linguistik berupa pertukaran fungsi dalam penggunaan man ( مَ ن ) dan mā ( مَا ) sebagai kata hubung dalam al-Qur’an. Secara konvensional-normatif dalam gramatika Arab klasik, man mutlak diperuntukkan bagi entitas berakal (li al-‘āqil), sedangkan mā untuk entitas tidak berakal (li ghair al- ‘āqil). Namun, teks Al-Qur’an secara paradoks menggunakan man pada konteks nonberakal— seperti merujuk pada berhala dan taksonomi hewan (dābbah)—serta menggunakan mā pada konteks berakal, termasuk merujuk pada perempuan, janin, hingga zat transenden Allah Swt. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar pengaruh konteks makro-mikro terhadap pergeseran fungsi tersebut serta mengungkap Weltanschauung (pandangan dunia) yang dibangun Al-Qur’an di balik pemilihan diksi tersebut. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini menjadikan teks Al-Qur'an sebagai objek material utama. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan semantik Al-Qur’an yang digagas oleh Toshihiko Izutsu untuk melacak makna dasar (basic meaning) dan makna relasional (relational meaning) secara sinkronik-diakronik dengan memetakan kronologi teks dari periode pra-Qur’anik (Syair Jahiliyyah) hingga periode Qur’anik (Makkiyyah dan Madaniyyah). Selain itu, tipologi penafsiran Muhammad Husain AżŻahabî digunakan untuk memetakan dinamika resepsi para mufassir terdahulu terhadap ayat-ayat anomali tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, dinamika penafsiran klasik hingga kontemporer cenderung mendekati anomali ini melalui kacamata teologis, hukum, kesusastraan, dan sufistik yang memunculkan konsep implisit seperti penyucian (tanzīh) atau peleburan makna. Kedua, analisis sinkronik pada syair Jahiliyyah mengonfirmasi bahwa batas fungsi man dan mā pada masa pra-Qur’anik sudah bekerja secara rigid sebagai cerminan kognisi Arab yang antroposentris. Ketiga, analisis diakronik menunjukkan bahwa Al-Qur'an melakukan rekayasa konseptual yang revolusioner. Pada periode Makkiyyah, man digunakan secara normatif untuk mengonstruksi kedaulatan manusia guna mendobrak fatalisme Jahiliyyah. Sementara pada periode Madaniyyah, penggunaan non-normatif bekerja melalui dua arah: sebagai kritik radikal atas nalar oportunistis kaum musyrik (QS. Al-Ḥajj [22]: 13) yang tersambung dengan konteks transaksional ayat 11, dan sebagai manuver linguistik dalam QS. An-Nūr [24]: 45 yang digerakkan oleh dominasi unsur agensi manusia untuk menggambarkan kesatuan eksistensial ragam makhluk hidup di hadapan poros penciptaan Allah Swt. Kata Kunci: Semantik Al-Qur’an, Toshihiko Izutsu, Man dan Mā, Weltanschauung.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information / Supervisor: | Dr. Mahbub Ghozali |
| Uncontrolled Keywords: | Semantik Al-Qur’an, Toshihiko Izutsu, Man |
| Subjects: | Ilmu Alqur’an dan Tafsir |
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1) |
| Depositing User: | S.Sos Sofwan Sofwan |
| Date Deposited: | 22 Jul 2026 09:30 |
| Last Modified: | 22 Jul 2026 09:30 |
| URI: | http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77600 |
Share this knowledge with your friends :
Actions (login required)
![]() |
View Item |
