Muhammad Salman Husen, NIM.: 22105050051 (2026) HADIS LARANGAN MENIPU DAN RELEVANSINYA DALAM DEEPFAKE (STUDI MA’ANIL HADIS). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.
|
Text (HADIS LARANGAN MENIPU DAN RELEVANSINYA DALAM DEEPFAKE (STUDI MA’ANIL HADIS))
22105050051_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version Download (8MB) | Preview |
|
|
Text (HADIS LARANGAN MENIPU DAN RELEVANSINYA DALAM DEEPFAKE (STUDI MA’ANIL HADIS))
22105050051_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version Restricted to Registered users only Download (9MB) | Request a copy |
Abstract
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang sangat pesat telah melahirkan fenomena deepfake, yaitu teknologi manipulasi media berbasis algoritma pembelajaran mendalam yang mampu menghasilkan konten visual dan audio palsu secara meyakinkan. Teknologi ini berpotensi besar disalahgunakan sebagai sarana penipuan, penyebaran informasi palsu, dan pencemaran nama baik, sehingga menimbulkan dampak serius bagi individu maupun masyarakat luas. Di sisi lain, Islam sebagai agama yang komprehensif telah meletakkan dasar etika melalui hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. yang secara tegas melarang segala bentuk penipuan (ghisy). . Penelitain ini disajikan untuk menjelaskan pemahaman hadis-hadis larangan menipu secara kontekstual, agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif terhadap hadis. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan teori pemahaman hadis yang digagas oleh Yusuf Qardhawi. Beliau merumuskan delapan langkah metodologis dalam memahami hadis secara komprehensif dan kontekstual. Namun demikian, tidak seluruh langkah tersebut diterapkan dalam penelitian ini, mengingat penyesuaian dengan fokus kajian dan kebutuhan analisis yang ada. Hasil dari penelitian ini, pertama, ditinjau dari segi kualitas sanad hadis, maka hadis tersebut tergolong hadis ṣaḥīḥ li dzātih. Sedangkan dari segi kualitas matan, hadis tersebut tergolong hadis Maqbul karena memenuhi standar keshahihan matan hadis. Kedua, mengenai hasil interpretasi hadis tersebut, dengan mengaplikasikan pemahaman hadis pada konteks saat ini, dimana perkembanagn teknologi yang semakin pesat, menjadikan sarana dan modus-modus penipuan baru yang jauh lebih kompleks. Ketiga, mengenai relevansi hadis larangan menipu dengan fenomena deepfake. Meskipun deepfake merupakan modus penipuan yang lahir dari perkembangan teknologi modern, ia tetap tergolong sebagai perbuatan yang dilarang dalam Islam, karena mengandung unsur-unsur penipuan.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information / Supervisor: | Dr. Muhammad Akmaluddin, M.S.I. |
| Uncontrolled Keywords: | Pemahaman Hadis, Deepfake, Penipuan |
| Subjects: | 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.125 Hadis |
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Hadis (S1) |
| Depositing User: | Muh Khabib |
| Date Deposited: | 30 Jul 2026 09:55 |
| Last Modified: | 30 Jul 2026 09:55 |
| URI: | http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77728 |
Share this knowledge with your friends :
Actions (login required)
![]() |
View Item |
