REKONSTRUKSI PEMAKNAAN ASATIR AL-AWWALIN DALAM ALQUR’AN: TINJAUAN KRONOLOGIS

Nasirudien Muhammad Iqbal, NIM.: 22200011079 (2026) REKONSTRUKSI PEMAKNAAN ASATIR AL-AWWALIN DALAM ALQUR’AN: TINJAUAN KRONOLOGIS. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (REKONSTRUKSI PEMAKNAAN ASATIR AL-AWWALIN DALAM ALQUR’AN: TINJAUAN KRONOLOGIS)
22200011079_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (824kB) | Preview
[img] Text (REKONSTRUKSI PEMAKNAAN ASATIR AL-AWWALIN DALAM ALQUR’AN: TINJAUAN KRONOLOGIS)
22200011079_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered users only

Download (6MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini mengkaji frasa asāṭīr al-awwalīn dalam Al-Qur’an melalui tinjauan historis-kronologis, berangkat dari persoalan bahwa pembacaan Al-Qur’an berdasarkan susunan mushaf Utsmani (tartīb muṣḥafī) mengaburkan dimensi historis proses pewahyuan dan perkembangan respons masyarakat terhadapnya. Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika diterapkan pada frasa asāṭīr al-awwalīn, yang muncul berulang kali dalam Al-Qur’an, yang diidentifikasi sebagai bentuk polemik atas otoritas wahyu. Kajian-kajian mutakhir menunjukkan bahwa perdebatan mengenai asāṭīr al-awwalīn masih berpusat pada persoalan makna leksikal, perdebatan penafsiran, sementara dimensi perubahan penggunaannya dalam lintasan kronologi pewahyuan belum memperoleh perhatian yang memadai. Adapun penelitian ini menggunakan metode historis-kronologis dengan menjadikan periodisasi Theodor Nöldeke sebagai kerangka acuan untuk memetakan kemunculan ayat-ayat asāṭīr al-awwalīn berdasarkan urutan pewahyuan, sekaligus mengembangkan pendekatan tersebut pada tingkatan ayat, tidak hanya berhenti pada urutan surat namun juga membuka kemungkinan dalam melihat perubahan konteks polemik, wacana, dan fungsi retoris asāṭīr al-awwalīn sepanjang proses pewahyuan Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, secara semantikhistoris, asāṭīr al-awwalīn memperlihatkan kontestasi pemaknaan: dalam tradisi Muslim-apologetik, frasa tersebut dipahami sebagai tuduhan oleh elit kafir Quraisy kepada Al-Qur’an yang bermakna “cerita dusta” atau pernyataan yang tidak rasional. Sedangkan dalam sebagian kajian kritis modern ditempatkan dalam perdebatan historis-kritis, kemungkinan pengaruh bahasa dan budaya non-Arab, serta keterkaitan Al-Qur’an dengan tradisi Yahudi-Kristen. Kedua, pembacaan kronologis menunjukkan bahwa kemunculan sembilan ayat yang memuat frasa asāṭīr al-awwalīn tersebar dalam beberapa fase pewahyuan dan tidak disatukan dalam suatu fase tertentu. Sebagian ayat memiliki riwayat asbāb al-nuzūl yang menghubungkannya dengan peristiwa tertentu, sementara sebagian lainnya hadir dalam konteks umum tanpa riwayat sebab turun yang spesifik. Analisis secara holistik pada aspek historiskronologis dapat memperluas pembacaan terhadap frasa asāṭīr al-awwalīn dari sekadar persoalan makna menuju persoalan wacana Al-Qur’an dalam konteks sejarah pewahyuannya.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Supervisor: Dr. Phil. Mu’ammar Zayn Qadafy, M.Hum.
Uncontrolled Keywords: Asāṭir al-Awwalin; kronologi Al-Qur’an; Theodor Nöldeke
Subjects: al Qur'an > Hermeneutika Al Qur'an
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Hermeneutika Al Qur'an
Depositing User: Muchti Nurhidaya [muchti.nurhidaya@uin-suka.ac.id]
Date Deposited: 25 Sep 2026 15:55
Last Modified: 25 Sep 2026 15:55
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78459

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum