Aswar, NIM.: 24205011008 (2026) MAKNA EKSISTENSIAL MARTIN HEIDEGGER DAN MUHAMMAD IQBAL DALAM DISKURSUS KECERDASAN BUATAN DAN MASA DEPAN MANUSIA. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.
|
Text (MAKNA EKSISTENSIAL MARTIN HEIDEGGER DAN MUHAMMAD IQBAL DALAM DISKURSUS KECERDASAN BUATAN DAN MASA DEPAN MANUSIA)
24205011008_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version Download (4MB) | Preview |
|
|
Text (MAKNA EKSISTENSIAL MARTIN HEIDEGGER DAN MUHAMMAD IQBAL DALAM DISKURSUS KECERDASAN BUATAN DAN MASA DEPAN MANUSIA)
24205011008_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version Restricted to Registered users only Download (5MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap berbagai artikel ilmiah yang membahas relasi antara Artificial Intelligence dan eksistensi manusia. Selanjutnya, data dianalisis melalui dialog pemikiran Martin Heidegger dan Muhammad Iqbal. Heidegger digunakan untuk membaca dampak ontologis teknologi terhadap keberadaan manusia, sedangkan Iqbal digunakan untuk memahami manusia sebagai diri yang kreatif, dinamis, dan transendental melalui konsep khudi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan AI melahirkan problem eksistensial berupa kecenderungan reduksi manusia ke dalam logika algoritmik, ketergantungan terhadap sistem teknologi, melemahnya refleksi diri, serta bergesernya agensi manusia menuju relasi yang semakin terjalin dengan kecerdasan buatan. Dalam perspektif Heidegger, kondisi tersebut merupakan manifestasi Gestell yang berpotensi mereduksi manusia menjadi bagian dari sistem teknologi dan mendorong lahirnya keberadaan yang tidak otentik. Sementara itu, Iqbal melalui konsep khudi menegaskan bahwa manusia tetap memiliki kesadaran reflektif, kreativitas, kebebasan, dan tanggung jawab eksistensial yang tidak dapat direduksi menjadi proses komputasional. Dialog kedua pemikiran tersebut menunjukkan bahwa AI tidak menghilangkan eksistensi manusia, tetapi menantang cara manusia memahami dirinya sendiri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masa depan manusia di era AI tidak ditentukan semata-mata oleh perkembangan teknologi, melainkan oleh kemampuan manusia mempertahankan otentisitas, kreativitas, kesadaran reflektif, dan tanggung jawab eksistensialnya. AI bukan akhir dari eksistensi manusia, melainkan medan baru bagi manusia untuk terus menegaskan makna keberadaannya. Kata Kunci: Kecerdasan Buatan, Eksistensi Manusia, Martin Heidegger, Muhammad Iqbal.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Additional Information / Supervisor: | Dr. Alim Roswantoro, M.Ag. |
| Uncontrolled Keywords: | Kecerdasan Buatan, Eksistensi Manusia, Martin Heidegger, Muhammad Iqbal. |
| Subjects: | Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta > Aqidah Filsafat |
| Divisions: | Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Aqidah dan Filsafat Islam (S2) |
| Depositing User: | S.Sos Sofwan Sofwan |
| Date Deposited: | 02 Oct 2026 10:34 |
| Last Modified: | 02 Oct 2026 10:34 |
| URI: | http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78579 |
Share this knowledge with your friends :
Actions (login required)
![]() |
View Item |
