PENGARUH UPACARA HAJAT LAUT TERHADAP MASYARAKAT DESA PANGANDARAN, KECAMATAN PANGANDARAN, KABUPATEN CIAMIS-JABAR

Neng Ipat Fathul Karomah, NIM.: 9712 2066 (2002) PENGARUH UPACARA HAJAT LAUT TERHADAP MASYARAKAT DESA PANGANDARAN, KECAMATAN PANGANDARAN, KABUPATEN CIAMIS-JABAR. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (PENGARUH UPACARA HAJAT LAUT TERHADAP MASYARAKAT DESA PANGANDARAN, KECAMATAN PANGANDARAN, KABUPATEN CIAMIS-JABAR)
97122066_BAB I_BAB PENUTUP dan DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (13MB) | Preview
[img] Text (PENGARUH UPACARA HAJAT LAUT TERHADAP MASYARAKAT DESA PANGANDARAN, KECAMATAN PANGANDARAN, KABUPATEN CIAMIS-JABAR)
97122066_BAB II sampai BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (18MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal-usul dan prosesi pelaksanaan tradisi Upacara Hajat Laut di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, serta menganalisis perilaku sosial budaya masyarakat muslim pendukungnya dan alasan tradisi tersebut tetap bertahan di tengah dinamika masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi interpretatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan dokumentasi, wawancara mendalam dengan para informan kunci (sesepuh adat, ketua Rukun Nelayan, dan masyarakat setempat), serta observasi langsung terhadap prosesi upacara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Upacara Hajat Laut merupakan tradisi tahunan masyarakat nelayan Pangandaran yang dilaksanakan setiap bulan Muharram pada hari Jumat Kliwon. Tradisi ini berawal dari kepercayaan lokal terhadap penguasa laut selatan (Nyi Roro Kidul) dan persembahan sesaji untuk menghindari bahaya di laut. Dalam perkembangannya, khususnya sejak era 1990-an dan bergantinya istilah menjadi "Syukuran Nelayan" pada tahun 1992, terjadi transformasi makna dan proses akulturasi antara kepercayaan lokal dengan nilai-nilai Islam. Ritual pelarungan sesaji dalam dongdang tidak lagi semata persembahan mistis, melainkan dimaknai sebagai simbol dan perantara rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki dan keselamatan yang diberikan. Keberadaan tradisi ini tetap bertahan karena diintegrasikan dengan kegiatan sosial keagamaan seperti pengajian akbar, khitanan massal, santunan (shodaqoh), gotong royong, serta menjadi ajang penguatan solidaritas sosial dan daya tarik pariwisata daerah.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Supervisor: Drs. Dudung Abdurahman, M.Hum. -Digitalisasi
Uncontrolled Keywords: Hajat Laut, Syukuran Nelayan, Masyarakat Muslim, Kebudayaan Islam, Akulturasi, Pangandaran.
Subjects: 300 Ilmu Sosial > 390 Adat-Istiadat Dan Kebiasaan > 392 Adat Istiadat Setempat
Divisions: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya > Sejarah Kebudayaan Islam (S1)
Depositing User: Widiyastuti, M.IP
Date Deposited: 07 Oct 2026 11:51
Last Modified: 07 Oct 2026 11:51
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78806

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum